
Travelers of Destiny . : . Jurnal 18
Juni 27, 2008EMILIA, THE DOORKEEPER
“Kau kenal dengan ‘Marcus’ ini, Lufia?” tanya Yoroi, saat mereka berenam memasuki kota Madelin kembali.
“Tidak. Yang aku tahu dia pindah dari Ibukota sekitar lima tahun yang lalu. Menurut pelayannya, dia ingin mencari ketenangan… tapi Madelin ‘kan selalu ramai oleh festival. Seharusnya dia pindah ke desa Lime saja,” kata Lufia.
“Pelayannya cantik tidak?” tanya Cid sambil terkekeh.
“A-ha, cantik atau tidak ‘kan relatif. Emilia memang baik pada anak-anak, tapi ia selalu curiga pada orang asing,” jawab Lufia dengan pose jenakanya.
“Ow, jadi namanya Emilia, ya,” gumam Cid tampak senang.
“Jangan berpikir macam-macam, Cid. Kita di sini untuk menjalankan misi!” tegur Larhette ketus.
“Heh, yah tentu saja kau yang menerima surat dari wanita bangsawan yang terhormat… tidak mau namamu jelek karena misi gagal ‘kan?” ejek Cid.
“Mulutmu itu harus diberi pelajaran, tahu!” balas Larhette yang sudah bersiap mengangkat tongkatnya.
“Kalian berdua hentikan… jangan bertengkar…” lerai Kimora menyeruak di antara Larhette dan Cid, berusaha menahan lengan Larhette menjauh dari Cid, dengan memeluknya erat.
Baik Larhette maupun Cid, akhirnya sama-sama mendengus kesal, kemudian membuang pandangan mereka. Kimora pun mendesah lega, walau masih dengan wajah khawatir. Sementara itu, Yoroi menengok sebentar ke belakang, memperhatikan Kimora sesaat sebelum memastikan bahwa tampaknya semua baik-baik saja.
“Rumahnya yang mana, Luf?” tanya Arzen, yang berada di depan bersama Lufia.
“Ituu~” tunjuk Lufia ke arah rumah yang berada di dekat gerbang utara Madelin.
“Luufiiiaaaaa!!!”
Tiba-tiba terdengar teriakan panjang memanggil nama Lufia. Semua membalikkan badannya untuk melihat siapa yang telah memanggil Lufia, kecuali Lufia yang sudah tahu suara siapa yang memanggilnya itu.
“Duh…” keluh Lufia sambil berbalik pelan. Di depannya, Revi sedang berlari ke arahnya dengan wajah kesal. “Ha ha… halo, Revi…” sapanya ketika Revi sudah cukup dekat.
Revi dengan cepat melompat dan melabrak Lufia, lagi. Namun kali ini Lufia tidak menghindar, ia membiarkan Revi menangkapnya.
“Lufia bagaimana, sih? Selesai pertunjukan langsung menghilang begitu saja. Lagi-lagi memilih bersama mereka!?” sembur Revi marah.
“Kak Lufia, Revi…” ujar Lufia santai sambil tertawa cengengesan.
“Aku tidak peduli!! Lufia pembohong!!” teriak Revi lebih keras lagi.
“Ng… siapa?” tanya Arzen sambil menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
“Anak didik Lufia…” jawab Yoroi singkat.
“Kau kenal?”
“Tidak juga…” jawab Yoroi menggantung, mengingat ia pernah dilempar pisau dan perisainya diinjak.
Untuk beberapa saat mereka tertahan di sana, melihat dan mendengarkan anak kecil bernama Revi itu memarahi Lufia, yang ditanggapi oleh Lufia hanya dengan senyuman dan tawa. Kimora mendekat dan berusaha membujuk anak itu supaya tenang, karena mereka tidak tahu masalahnya. Sampai akhirnya Yoroi menghela napas panjang.
“Arzen, kau dan Larhette pergi duluan saja ke rumah Tuan Marcus,” ujarnya.
“Hm… lalu bagaimana dengan kau?” Arzen bertanya balik.
“Kami akan menunggu di sini… sampai anak itu tenang, mungkin…”
Arzen diam berpikir sejenak. Memang membuang waktu kalau hanya diam saja menunggu hal di depan mereka reda. Jadi, Arzen lantas memanggil Larhette, “Larhette, ayo kita duluan saja,” ajaknya.
“Eh? Tapi…”
Yoroi memberi anggukan kepala, menunjukkan bahwa hal itu tidak apa-apa. Larhette pun akhirnya pergi bersama Arzen.
“Hei, aku ikut!” seru Cid sambil setengah berlari menyusul Arzen.
“Mengapa orang sepertimu harus ikut?” protes Larhette.
“Heh, terserah aku, dong!” balas Cid.
“Arzen! Nanti dia mengacau! Aku tidak mau tahu!!”
“Ya, ya…” desah Arzen cuek yang berjalan di antara mereka, menjadi penengah.
Mereka bertiga kemudian berjalan ke rumah yang tadi ditunjuk Lufia sebagai rumah orang yang bernama Marcus itu.
Arzen mengetuk pintunya tiga kali. Tak lama terdengar suara kunci pintu dibuka. Seorang wanita setengah baya berdiri di balik pintu yang setengah terbuka. “Ada urusan apa kalian datang kemari?” tanyanya dengan nada curiga.
“Ng, boleh kami tahu siapakah orang yang tinggal di sini?” tanya Arzen sopan.
“Dulu, dia adalah sekretaris di Pengadilan Kerajaan, namanya Marcus. Sekarang dia menikmati hidupnya dengan membaca buku dan melewati waktunya dalam keheningan.”
“Dapatkah kami bertemu dengan Tuan Marcus?”
“Tuanku tidak suka dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Apabila kalian tidak memiliki kepentingan, silakan pergi.”
“Anda Nona Emilia, bukan?”
“Ya. Aku adalah juru masak Tuanku. Aku juga sekretarisnya. Jadi apa pun urusan kalian, harus melewatiku terlebih dahulu,” jawabnya dingin.
Sebelum diusir lebih lanjut, Arzen melihat pada Larhette dan memberinya anggukan. Larhette pun mengerti, lalu mengambil surat rekomendasi yang didapatnya dari wanita bangsawan itu.
Emilia pun menerima surat tersebut. Mendadak muka Emilia terlihat kacau sewaktu dia membaca suratnya. Apakah ada sesuatu yang salah dengan surat itu?
“Apa ini? Apakah kalian mau menipuku dengan membawa surat kosong seperti ini? Apakah kalian ingin mengolok-ngolokku?” semprot Emilia galak.
Arzen dan teman-temannya terlonjak kaget, mereka bingung, terutama Larhette.
“A, apa ini? Apakah ada sesuatu yang salah?” tanya Larhette bingung.
“Lihat ini!” seru Emilia sambil melambaikan kertas surat dengan kasar. “Tidak ada apapun di dalamnya. Ini sungguh membingungkan. Banyak orang yang membawa hadiah untuk mendengarkan perkataan Tuan Marcus, tetapi aku belum pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya.”
“Kalau begitu, aku akan membawa surat itu lagi,” ujar Larhette cepat.
“Tipuan apa lagi yang akan kalian gunakan kali ini? Kenapa kalian tidak membawa surat yang benar pertama kali?” bentak Emilia.
Larhette benar-benar bingung. Surat yang tadi diberikan kepada Emilia adalah surat yang diterima dari wanita bangsawan, yang walaupun menyembunyikan identitasnya, Larhette tahu kalau beliau adalah Permasuri Claire. Tidak mungkin seorang Permaisuri yang mengajukan permintaan dengan serius, memberikan sebuah surat palsu. Larhette yakin sekali melihat cap segel api, lambang keluarga kerajaan Clements, di penutup amplopnya.
Arzen masih berusaha bicara baik-baik pada Emilia, tapi tampaknya Emilia sudah ingin mengusir mereka dari sana. Akhirnya Cid angkat bicara.
“Tenang, nona… Baiklah, haruskah aku memberikan hadiah untukmu?” tanya Cid dengan gaya rayuannya seperti biasa.
Emilia terdiam dan menatap Cid dengan curiga, namun penasaran. “Hadiah macam apa?” tanyanya ragu-ragu.
Cid tersenyum penuh pesona, lalu berkata, “Bagaimana kalau kencan denganku, nona?”
“A-apa?” wajah Emilia tersipu merah mendengar ajakan Cid. Namun beberapa saat kemudian, alisnya berkerut dan turun, mulutnya terbuka lebar. “Ji-jika itu maumu, lupakan saja hal ini! Pergi! Aku tidak mau berbicara dengan orang yang kasar, seperti dirimu!”
BRAAK!! Emilia menutup pintu rumah dengan keras, meninggalkan wajah para petualang yang penuh dengan keheranan.
“Ah, sambutan yang tidak kuduga, sayang sekali…” komentar Cid.
Arzen dan Larhette memandangi Cid dengan pandangan tidak percaya. Arzen melipat kedua tangannya dan menatap Cid dengan kesal, sementara Larhette sudah mengeluarkan tatapan pembunuh.
“Apa? Biasanya berhasil untuk tipe seperti dia,” ujar Cid tanpa merasa bersalah.
“Sudah kubilang dia akan mengacau!” ujar Larhette kesal sambil menunjuk Cid.
“Hei, kau yang membawa surat rekomendasi palsu,” protes Cid tidak mau kalah.
“Ya, ya. Kalian berdua mengacau, puas?” sela Arzen sehingga membuat dua orang itu berhenti bertengkar sementara.
“A-aku tidak!!”
“Enak saja!!”
“Heh, kalau sudah begini baru sama-sama protes. Kalian saja yang kencan,” ujar Arzen sambil tersenyum lebar.
“Arzen! Ini bukan waktunya bercanda!” seru Larhette dan Cid bersamaan. Menyadari ucapan mereka yang sama dan berbarengan, Larhette dan Cid saling berpandangan dengan kesal, kemudian saling membuang muka. Suasana pun kembali hening.
“Nah, kalau begini ‘kan tenang,” kata Arzen sambil berbalik badan dan berjalan meninggalkan mereka berdua, kembali ke tempat Yoroi dan yang lainnya menunggu di dekat air mancur Madelin.
“Ah, tunggu…” Larhette segera berlari menyusul Arzen. Sementara Cid mengikuti di belakang dengan muka masam. “Sekarang… apa yang harus kita lakukan?” tanya Larhette. Ia sedikit menyesal karena marah-marah terus.
“Tidak tahu…” kata Arzen cuek sambil mengangkat bahunya.
“Kalau, kalau bertanya pada peramal Shina bagaimana?” usul Larhette.
“Perlukah untuk hal yang seperti ini?” celetuk Cid di belakang. “Menurutku kita bertanya pada para penduduk saja dulu, siapa tahu ada yang bisa kita minta bantuan. Untuk apa mengeluarkan sepotong emas hanya untuk bertanya cara masuk ke rumah orang? Belum lagi nanti-”
“Ok, ok. Aku mengerti maksudmu, Cid…” potong Arzen yang bosan mendengar ocehan Cid, si pelit, dan sebelum Larhette kembali bertengkar dengannya. “Kita bisa tanyakan dulu pada Lufia,” tambah Arzen tanpa berbicara lagi lebih lanjut.
“Hum… yah, baiklah,” angguk Larhette perlahan pada akhirnya.
Huhum….ada yg ngga kumengerti…
Melabrak? Menabrak? Yang mana? Bingung…. @_@
Prnah diinjak perisainya? Pdhl itu mahal kan ya… Kasihan sekali kau, Yoroi-san~~~
Emilia yang malang… (lho kok?)
Bingung mau terima ajakan Cid atau ngga ya~~~~ /lala *kabur sejauh2nya dari Madelin*
melabrak = maju hampir menabrak sambil marah2, mungkin pake mukul2 dikit
perihal perisai diinjak, coba baca chapter TENDA SIRKUS
sifat Emilia yg blush saat diajak kencan Cid adalah sifat yg ada di fanfic only, yg nyoba ngerayu in-game tetep aja diusir /heh
thx luc, untuk diskusi sifat Emilia.
hmm….
calon pasangan~
arzen->kimora (tp dengan penghalang yang berat)
cid->larhette xD~
revi dket bgt yah ma lufia XD
harusnya dikurung di kandang lg~
*kabur*
yoroi yg malang…ckckck….
@mami
cid kasian sekali
siap nik ^^
next siapa lagi korban kita selanjutnya ya?
aesa?
baldea?
claire?
/lala
*kaborrr*
Baru baca…

Aaaaa keren bgt ceritanya ^^
Cc nizami hebat banget nulisnya ^^
Karakternya bener-bener berkarakter, keliatan sifanya masing-masing ^^ salut-salut..
Tapi ada satu hal yg agak kelupaan, yaitu benda paling berharga di Shiltz… : RUBY!
Emang ada dibilang tentang permata, tapi lebih spesifik dunk..nanti aja kalo dah mulai lawan Bale, ceritain euphoria orang yang dapet ubay ^^ Just a suggestion…
Btw yg di websitenya agak susah bacanya, soalnya tulisannya samar-samar ama background >_<
Itu aja d kayaknya..
Ayo lanjutin lagi cc, semangat ^^
PS : Kalo diliat petnya koq ga ad yg bawa Male Dryad ya T_T Peter Pan maw ikutan nongol…
wah bagus ni cerita lanjutin trus yah
moga-moga ampe mereka semua ganti job kedua
tapi kayanya masi lama…